Monday, February 1, 2010

Sebuah Lukisan Memori

Aku berdiri disini, entah ingin tersenyum atau menangis. Aku berdiri di depan ribuan foto yang ditempel di dinding. Semua lukisan masa lalu, semua memori tawa dan tangis terpampang di depan mataku. Semua gambar dengan tanda tangan berininsial RN di bawahnya. Aku terpaku tak berdaya mengahadapi semua ini. Aku tak mempu menjalani hari-hariku tanpa nya, Rayendra Nugaraha. cinta ku.

Kisah kasih ku berawal di suatu pameran foto sekolah SMA 32. Tempat dimana aku bertemu Rayendra. "Maaf, gw gak sengaja. " Botol minum ku yang tadi kupegang kini jatuh dan retak. "Ya ampun, maaf banget ya, gue ganti deh nanti. Oh ya, nama gue Ray. Rayendra Nugraha. "
"Gak papa kok, gak usah diganti. Kan tadi gak sengaja juga. Namaku Clarissa. Kamu bisa panggil aku Claire." Perkenalan singkat di siang yang terik, yang berawal dari sebuah ketidak sengajaan berlanjut menjadi cinta.

Hari-hari berjalan, aku semakin mengenal sosok Rayendra yang selalu membawa kamera nikonnya kemana-mana. Hatiku pun makin terbuka dengan senyumannya. Aku rasa aku mencintai Rayendra.

Mimpiku ternyata menjadi kenyataan. Suatau hari Minggu pagi, Ray datang ke rumahku tanpa memberiku tahu terlebih dahulu. Ia datang dengan segenggam bunga mawar dan putih. Bunga kesukaanku. Ia menyatakan perasaannya pada hari itu. 19 Januari 2008.

Ia adalah pemotret yang handal. Tak ada yang meragukan itu. Hasil fotonya begitu indah dan tidak biasa. Seperti pribadinya yang ku kenal. Tapi, suatu hari aku menyadari sesuatu dan menjadi sedih. Ia tak pernah memotret ku.

Hari itu adalah tanggal 9 April 2009. Dimana umurku genap menjadi 16 tahun. Aku telah memakai baju indah dan menunggu Ray untuk menjemputku. Aku masih sabar menunggu setelah 1 jam ia belum datang juga. Aku mulai bertanya-tanya, dimanakah Ray?
Aku pun mengambil handphone ku dan meneleponnya. Tidak ada satu nada tunggu sekalipun. Handphone nya tidak aktif. Waktu terus berjalan hingga 2 jam berikutnya. Hatiku mulai cemas. Dan perasaanku itu benar ketika hpku berdering.

"Maaf, apa anda kerabat dari Rayendra Nugraha?" Aku kaget karena bukan suaranya yang ada di telepon itu. "Ya. Siapa ini?" "Saya dari RS Setiakusumo. Rayendra mengalami kecelakaan dan ia sedang mengalami masa kritis. Bisakah anda dengan segera mungkin ke UGD kami?"
Aku tak berpikir lagi. Aku langsung menuju RS tersebut.

Ia ada disitu. Terbaring lemah. Aku tak lagi kuasa untuk menahan tetesan-tetesan air mataku. Tuhan, biarkan ia hidup, doaku dalam hati.
Ray menatapku lirih, air mata menggenang di matanya. Masih tersisa banyak darah di bajunya. Aku menggengamnya.

"Claire, ada hadiah untukmu. Di tempat pameran foto SMA 32. Tempat kita pertama kali bertemu. Claire, ingat selalu, aku mencintaimu."

Suara alat yang tadi bernada putus-putus kini bersambung tak berhenti. Genggaman itu lepas. Hidupku hancur.

Aku merasa begitu jahat. Dulu aku berpikir aku bukan lah bagian dari mimpinya-fotografi nya. Tapi kini aku tak sanggup berkata apa-apa. Aku menatap 1000 gambar diriku tepampang di dinding putih. Tangis ini seperti tak akan pernah berhenti. Hadiah terakhir Rayendra untukku, yang telah ia kumpulkan selama kami bersama. Semua jerih payah, semua kenangan.

"Tuhan, terima kasih Kau telah memberikan malaikat seperti dirinya dalam hidupku. Aku sungguh bersyukur karena aku diberi kesempatan untuk mencintainya. Tuhan, aku menyerahkan dirinya pada Mu saat aku tak bisa ada di sisi nya lagi. Karena dialah hidupku, dialah hatiku seutuhnya."
Sebuah tulisan tangan di bawah ribuah foto diriku.

Aku tersenyum sambil meneteskan air mata. "Tuhan, terima kasih atas segalanya. Terima kasih atas cinta. Dan terima kasih atas hadirnya Rayendra di hidupku. Aku mencintainya sampai aku menutup mata dan kembali menggengam tangannya."

01.02.10
p.hilary

0 comments: